Halooooo
cek cek.. ehem ehem...
Sebelumnya mohon maaf kalo saya nyoret2nya agak sedikit menyakiti beberapa pihak terkait, yang jelas ini cuma uneg2 saya, mau dipertimbangkan, dipermasalahkan, ato buat referensi evaluasi juga gpp, saya cuma ingin menganalisis dan berusaha menularkan hal2 yang positif aja sama temen2...
Ok, ngomongin tentang konser, selalu ribet di awal dan lebih ribut di akhir persiapannya. First, tentang materi. Permasalahannya adalah di awal proses latihan (baca: reading) banyak yang menghilang, di pertengahan proses mulai bertambah, di akhir proses (baca: blending) baru full-team. Sebenernya keadaan seperti ini ga bakal jadi masalah kalo seluruh anggota tim bertanggung jawab atas penguasaan materi pementasan, sebut aja pas waktunya gabung sekali seminggu semuanya dateng udah pada bisa nyanyiin lagu yang udah dikasih partiturnya seminggu yang lalu, istilahnya reading sendiri di rumah/kamar masing2. Jadi, pas penggarapan interpretasi kerja conductor ga terlalu berat, ga harus menghabiskan waktu untuk ngurusin nada2 yang belum tepat.
Intinya adalah memahami kondisi kita saat ini. Concert master ada untuk mengurusi persiapan materi pementasan, dalam hal ini yang mengkoordinir latihan adalah dia, ya penjadwalan, ya mengkoordinir proses latian: reading sebelum nanti 'diserahkan' ke conductor. Concert master punya asisten, yaitu cantora per suara, yang membantu concert master mengkoordinir proses reading per suara. Setelah urusan reading beres, baru diserahkan ke conductor untuk penggarapan interpretasi dan blending-balancing.
Yang jadi masalah adalah saat kita ga tertib mengikuti alur ini. Mungkin di awal proses banyak yang punya kesibukan jadi ga sempat ikut reading bareng di sanggar, saya pun sebagai mahasiswa juga sering seperti itu, terkadang rasanya waktu dan tenaga saya sangat terkuras habis untuk mengurusi tugas kuliah yang justru pasca UTS makin banyak, ya tugas lapangan, ya praktikum, ya presentasi, belum lagi di beberapa mata kuliah mengharuskan saya menghabiskan banyak waktu untuk menulis personal jurnal sebanyak 4 halaman folio bergaris, dan yang namanya personal jurnal butuh inspirasi dan mood yang pas jadi saya lebih lama bersemedi di kamar, ga mau diganggu dengan hal2 lain. Sebenernya kesibukan seperti ini ga jadi halangan saya, ataupun kita untuk ga menguasai materi. Kita udah berproses cukup lama di sini, reading sendiri harusnya bisa dong.. Ngorbanin waktu istirahat kita sepuluh menit aja buat reading saya pikir ga terlalu berat. Bisa ditanyain ke Cacing, lagi mojok aja sempet2nya saya nyicil reading lagu penutup kita ntar, dan alangkah kecewanya saya saat saya mendapati lagu itu sampe sekarang 'dicuekin', padahal kita mulai nyentuh partiturnya sebelum anak2 Serenade mulai latihan. Dan tragisnya sekarang kita harus ngejar reading 7 lagu lagi dalam waktu (menurut perhitungan saya sendiri) 3 minggu. Kalo kita masih bertahan dengan cara kita saat ini, saya pikir konsernya bakal mundur ato konsekwensinya penampilan kita ntar (maaf) bakal 'dikalahin' anak2 Serenade.
Coba deh, kalo udah dapet partitur di sanggar, trus ga nongol seminggu, pas nongol gabung, udah reading duluan jadi bisa ngikutin pas gabung itu, ga harus nggandul teman satu tim ato malah bikin temen2 satu tim yang udah pada bisa karena tiap hari reading bareng di sanggar harus ngulang reading lagi demi saya atau beberapa orang aja. Bukan bermaksud mengecilkan hati, tapi saya hanya ingin memotivasi biar temen2 menyadari kalo ternyata sistem latihan kita harus diperbaiki, dan memperbaikinya dari diri sendiri dulu. Ya menurut saya dimulai dari kesadaran kita masing2 untuk menguasai materi pementasan. Sering denger kan mas Ipink bilang kalo semua penyanyi harus bertanggung jawab menguasai materinya masing2? Maksudnya adalah biar pas penggarapan interpretasi beliau ga lagi menghabiskan waktu untuk ngurusin yang masih fals, tapi udah ke teknik bernyanyi kita, jadi persiapan kita lebih matang dan materi pementasan kita lebih gress... Jadi enak semuanya, berjalan lancar tanpa harus kocar-kacir menghabiskan banyak tenaga di akhir proses latihan. Dan tentunya, ntar pas konser kita ga kecapean lagi di-drill terus menerus.
Saya masih memegang teguh bahwa latihan adalah satu-satunya cara agar kita bisa tampil bagus di pementasan, sehebat apapun orang, sepinter apapun dia, pasti butuh persiapan dan latihan biar bagus penampilannya, ga ada yang mendadak dapet mukjizat tiba2 aja nyanyinya bagus tanpa persiapan apapun. Sangat behaviorism memang, tapi saya setuju karena saya sendiri mengalaminya berkali-kali. Seperti yang sudah saya singgung lewat DPKS PSM Gita Savana kemarin: some clues from us in preparing the concert: first of all, PRACTISE >> memperbaiki teknik bernyanyi, mempelajari materi pementasan, membangun chemistry dengan anggota tim lainnya, mempertahankan kualitas vokal yang sudah ada. Jadi latihan ga sekedar ngerumpi, baca lagi, bosen, ngerumpi lagi, bosen lagi, mual.... Tapi lebih dari itu. Yang terpenting adalah menyatukan emosi anggota tim. Kita butuh ini agar nanti di pementasan kita bisa sama mind set-nya, satu hati, satu rasa... Ga ada lagi yang nyanyinya masih minder ato malah menonjol... Dijamin, sama. Karena kita udah solid dan mengenal dengan baik satu sama lainnya.
Saya setuju dengan beberapa teman yang protes tentang cara kita menghargai proses latihan yang mungkin terlihat semena-mena. Jujur, saya ga tega liat beberapa teman yang tiap hari datang ke sanggar, reading bareng, sambil membawa harapan yang dateng hari ini banyak, kita bisa belajar bareng, ga harus ngulang2 reading lagi waktu kita udah reading lagu berikutnya, biar kita ga molor2 lagi, waktunya kita udah garap interpretasi ya jangan sampe ngulang reading lagi, jadi kita punya waktu yang lebih untuk juga mengurusi sisi produksi. Saya juga masih ga setuju dengan budaya 'persiapan instant', karena dalam pandangan saya budaya ini mengajarkan kita manja dan tetap di kemampuan kita yang itu2 saja, tanpa ada kemajuan sedikitpun. Kita juga jadi ga peka sama perasaan teman2 lainnya, karena kita ga terlibat dari awal di proses ini. Secara ga langsung, dengan ada di tengah temen2 dari awal proses aja tanpa melakukan apapun udah membangun hubungan emosi yang cukup kuat untuk bekal kita di pementasan nanti.
Dan tentang materi ini, yang paling penting emang kita harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi kita masing2. Gimana mau dipoles kalo bentuknya masih sangat tidak jelas, ga bakalan jadi bagus, kalopun bagus pasti ga sebagus yang semestinya yang kita pengen..
Jauh dari dalam lubuk hati saya, saya bener2 ga bermaksud menyalahkan atau mengecilkan hati siapapun, karena saya sendiri tau saya juga bersalah dan sering bikin masalah. Saya hanya ingin membawa ketidaksadaran kita ke permukaan sebelum benar2 salah alur. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang selama ini saya tahan dan tidak bisa saya komunikasikan secara langsung karena saya harus berpikir panjang untuk menyampaikannya dengan bahasa dan cara yang baik dan bisa diterima temen2, karena saya tidak mau lagi memaksakan temen2 bisa menerima cara saya yang sangat berbeda dengan temen2. Saya memang ga bisa ngerti temen2 dengan baik, tapi saya hanya berusaha menahan diri agar tidak menjadi trouble maker lagi di tengah temen2. Untuk itu saya mohon maaf kalo di tulisan saya ini banyak kata2 ato statement yang tidak berkenan di hati temen2. Silakan berpandangan miring tentang saya, saya bisa terima apapun feedback dari temen2 secara fair dan lapang dada. Saya lebih suka dievaluasi langsung pada intinya, tidak berputar2 tanpa jelas kemana arahnya, dan tidak menghakimi saya dengan statement2 yang ambigu dan tidak mengarah langsung pada saya, justru malah menjadikan orang lain ikut terhakimi.
Setelah ini kalo ada yang mau maki2 saya silakan, ato mendadak jadi benci, ato bahkan semakin ga suka sama saya, silakan, itu hak temen2. Sebelumnya saya bener2 mohon maaf. Tapi saya cuma pengen kita bisa belajar dari pengalaman. Dan segera sadar kalo kita masih harus banyak berlatih dan belajar demi kemajuan kita bersama. Bener2 ga ada niat saya menghakimi siapapun, saya hanya merefleksikan pengalaman saya. Kalau ada masalah, langsung hubungi saya, saya siap mengklarifikasi dan dikoreksi kapanpun. Yang jelas saya cuma pengen konser kita sukses, demi kebaikan kita semua.
Monggo... ^_^
To be continued :))
*disalin dari catatan facebook saya pada 6 Mei 2011 dengan judul yang sama
No comments:
Post a Comment
uneg-uneg